Jumat, 18 November 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
SYAHID SELEPAS MENGUCAPKAN SYAHADAH
Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w.
sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal
yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah
datang menemui
Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama
Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal
dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah
tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan
mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam
jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya
menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku
kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian
angkuhnya Amar.
Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Rasulullah s.a.w. menyambut kedatangan Amar dengan sangat
gembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad
s.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh
ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di
kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana
Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang
hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah
berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan
dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.
"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi." Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t.."
"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.
"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi." Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t.."
"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.
Asal Usul Nasi Tumpeng
Ane yakin agan tahu apa itu nasi
tumpeng, kecuali sejak kecil agan tinggal di luar negeri dan baru
pulang belakangan ini ke Indonesia, atau Agan aja yang kupernya
keterlaluan. Ketika ada upacara adat, selametan, bancakan, ulang tahun
tradisional, atau tujuh belas Agustusan, Agan pasti nemuin itu makanan.
Bentuknya kerucut, dibuat dari nasi kuning atau nasi uduk. Nasi
tumpeng atau tumpengan biasanya dihiasi dengan beraneka bahan makanan
atau sayuran seperti cabe, wortel, tomat, telur dll . Kalo Agan
perhatikan bentuk kerucut tumpeng mengingatkan kita pada bentuk gunung.
Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan negeri kepulauan yang
memiliki banyak gunung berapi. Nenek moyang kita memandang gunung
dengan pandangan hormat. Dan nasi tumpeng atau Tumpengan dimaknai orang
sebagai simbol gunung Mahameru.

“Gunung Mahameru sih apa, sebelah mana gunung Semeru?” Tanya Agan2.
Begini, gunung Mahameru adalah sebuah konsep alam semesta yang
berasal dari agama Hindu dan Buddha. Konon alam semesta berbentuk pipih
melingkar seperti cakram, dan lingkaran itu berpusatkan Gunung
Mahameru yang tingginya katanya sekitar 1.344.000 kilometer. Puncak
gunung ini dikelilingi matahari, bulan dan bintang-bintang. Konon
katanya gunung ini berdiri di tengah benua yang bernama Jambhudwipa yang
ditinggali manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Benua Jambhudwipa
dikelilingi tujuh rangkaian lautan dan tujuh rangkaian pegunungan. Di
bagian tepi alam semesta terdapat rangkaian pegunungan yang sangat
tinggi sehingga sukar didaki, yaitu Chakrawan dan Chakrawala. Di puncak
Gunung Mahameru terletak kota tempat tinggal dewa-dewa. Adapun delapan
arah dari Gunung Meru dijaga oleh dewa-dewa Asta-Dikpalaka sebagai
pelindung alam semesta dari serangan makhluk-makhluk jahat.(Stutley
1977:190-191; Heine-Geldern 1982:4-5; Dumarcay 1986:89-91 dalam
Munandar).“Gunung Mahameru sih apa, sebelah mana gunung Semeru?” Tanya Agan2.
Orang-orang Jawa Kuno penganut Hindu-Buddha yang memang gemar belajar dan membaca memperhatikan betul soal ini. Dari dulu sampe sekarang orang kita memang tergolong suka beradaptasi dengan budaya dari luar. Setelah masuk ke budaya kita, budaya luar pastinya mengalami lokalisasi (istilah ini kedengarannya gimana gitu) atau istilah yang lebih tepat untuk zaman sekarang dan pastinya tidak mengandung konotasi bagi pikiran kamu yang kotor, yaitu Jawanisasi atau Indonesianisasi. Orang Jawa Kuno percaya kalo Gunung Mahameru telah mengalami mutasi atau dipindahkan oleh para dewa dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. Entah karena alasan politis atau agama, pulau Jawa kemudian dinyatakan sebagai pusat dunia. Konon oleh Bhatara Guru (atau Shiwa) para dewa disuruh turun ke Jawa supaya mengajari para penduduk awal pulau Jawa berbagai pengetahuan dan keterampilan.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalo gunung-gunung memiliki nilai mistis dan religius di mata masyarakat (terutama di Jawa). Sebenarnya gak cuma di Jawa, kita sering dengar juga perkataan yang berasal dari orang yang bukan bangsa kita soal orang bijak dari puncak gunung, atau istilah petapa turun gunung. Di banyak kebudayaan gunung dianggap suci atau mistis. Orang Yunani menganggap gunung Olympus sebagai tempat bersemayamnya Zeus. Di Hawaii masyarakatnya percaya kalo gunung Mauna Kea adalah tempat tinggal Pele (bukan Pele sang legendaris sepak bola itu! Kalo dia sih tinggal di Brazil). Di pegunungan Himalaya banyak dibangun kuil-kuil. Kalo di Indonesia sendiri kita mengenal legenda nini Pelet dari puncak gunung Ciremai atau mak Lampir dari gunung Merapi (Ini sih sandiwara radio dan sinetron silat
Manusia adalah homo symbolicum. Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuannya menciptakan simbol atau lambang. Misalnya bendera merah putih merupakan lambang keberanian dan kesucian. Atau yang lebih universal, setangkai mawar dianggap simbol pernyataan cinta. Gunung Mahameru yang dianggap pusat alam semesta oleh masyarakat Jawa Kuno kemudian disimbolkan dalam bentuk-bentuk yang man-made dari yang susah dibuat seperti Candi sampai yang made in dapur seperti nasi tumpeng. Nah, sekarang kamu baru tahu kan asal-usulnya kenapa tumpeng bentuknya kerucut? Kalo pun kamu mau memaknainya secara berbeda itu sih sah-sah aja. Ini namanya proses semiosis. Kalo dulu mungkin nasi tumpeng bermakna filosofis sebagai gunung Mahameru, kini mungkin beda lagi. Mungkin bagi kamu tumpengan maknanya, makan enaaaaak!
Jumat, 21 Oktober 2011
Tradisi Turun Tanah
Salah satu tradisi di Madura yang masih sangat kental, yaitu tradisi turun tanah. Tradisi ini,merupakan perayaan bagi balita yang sudang mencapai usia 7 bulan. Di Pamekasan, tradisi turun tanah dilakukan dengan cara unik. Sang balita memakai kostum khas adat Madura dan menginjak kue tradisional tet-tel.Sultan Haniswara Farrosi, balita mungil warga jalan cokro atmojo Pamekasan ini, kini siap-siap menyambut para tamunya.Dengan memakai kostum pakaian adat khas Madura, Sultan akan merayakan tradisi adat Madura yang di kenal dengan toron tana.Dalam merayakan tradisi toron tana ini, para undangan banyak melibatkan anak-anak, sambil didampingi para orang tuanya.Setelah semua undangan berkumpul, perlengkapan prosesi adatpun di siapkan. Mulai dari nampan yang berisikan berbagai perlengkapan solat, uang,kue tradisional tet-tel,tangga yang terbuat dari batang tanaman tebu, hingga sangkar hias.
Upacara adatpun di mulai, dengan di pimpin tokoh masyarakat sekitar. Prosesi adat turun tanah di awali dengan dzikir dan bersholawat bersama.Selanjutnya,saat proses turun tanah di lakukan, Sultan pun di ajak untuk memilih sesuatu yang ada di atas nampan. Lihat saja, untuk pertama kali, Sultan langsung mengambil mainan alat kesehatan stetoskop, uang, hingga kacamata.Diyakini, apa yang diambil pertama kali oleh Sultan itu, adalah indikasi dari apa yang akan ia alami dan ia capai selama hidupnya.Proses turun tanah, kemudian dilanjutkan dengan menginjakkan kaki sang balita di atas kue tradisional yang di sebut kue tet-tel.Hal ini di harapkan, agar anak saat berdiri bisa cekatan. Prosesi kemudian dilanjutkan, dengan menaiki tangga yang terbuat dari batang tanaman tebu. Bahkan,sultan harus mendekam sejenak di dalam sangkar hias. Kesemua prosesi tersebut tentu memiliki makna.
Usai proses turun tanah, perayaan di meriahkan dengan penaburan permen dan uang koin. Saat permen dan koin di lempar, anak-anak rebutan.Permainan rebutan koin dan uang tak jarang membuat anak anak saling berdesakan. Seperti halnya Reza, dia mengaku hanya mendapatkan sebagian uang dari permainan ini.Sebagai penutup, anak-anakpun di beri hadiah bungkusan makanan, tradisi turun tanah yang merupakan tradisi turun temurun ini, merupakan sebuah harapan, dimana sang anak kelak di harapkan menjadi anak yang baik.
Populasi Orang Utan
Tingkat perjumpaan dengan orang utan telah jatuh enam kali lipat di Borneo selama 150 tahun ini, menurut laporan tulisan para peneliti dalam jurnal PLoS One.
Erik Meijaard, seorang ekologis dengan Nature Consulting International, dan rekan-rekannya membandingkan tingkat perjumpaan dengan tingkat-tingkat sebelumnya dari naturalis yang bekerja di pertengahan abad ke-19. Mereka menemukan bahwa orang utan jauh lebih jarang saat ini, bahkan di daerah hutan asli.
"Padahal beberapa penjelajah awal dulu akan melihat sebanyak enam orang utan di satu pohon atau bertemu dengan tiga lusin di sepanjang sungai dalam satu hari, sekarang, di hutan yang sama, jarang ditemui seekor orang utan di alam liar," ujar Meijaard pada mongabay.com via email.
Hasil ini memperkirakan bahwa perburuan mengorbankan populasi orang utan.
"Wawancara atas hampir 7000 penduduk di Kalimantan [wilayah Indonesia di Borneo] baru-baru ini mengungkap bahwa lebih dari ribuan orang utan masih dibunuh setiap tahunnya oleh penduduk setempat, yang lebih dari 50% adalah untuk makanan," katanya.
Meijaard dan rekan penulisnya menggarisbawahi beberapa faktor yang mungkin telah mengakibatkan peningkatan perburuan di Borneo, termasuk salah satu yang khususnya aneh di bagian utara Borneo: pelarangan perburuan kepala oleh pemimpin kolonial di Malaysia.
"Masih tidak jelas kenapa tekanan perburuan meningkat di Sabah bagian barat beberapa ratus tahun yang lalu. Waktunya sesuai dengan perkiraan berakhirnya perburuan-kepala di Borneo, yang membuat sebagian besar bagian pulau tersebut terlalu berbahaya untuk dikunjungi," tulis penulisnya. "Banks menyimpulkan bahwa perburuan-kepala menyediakan perlindungan bagi kehidupan liar, karena sebagian besar wilayah hutan dihindari oleh pemburu yang takut bertemu dengan kelompok pemburu kepala yang sedang menjelajah. Dia mencatat bahwa, segera setelah pelarangan kolonial atas perburuan-kepala diterapkan, banyak wilayah hutan menjadi lebih aman untuk dilewati, memungkinkan para pemburu untuk masuk lebih jauh dari desanya... Juga, diperkirakan kepala orang utan menggantikan kepala manusia sebagai trofi, yang mungkin juga menambahkan tekanan perburuan atas orang utan."
Melihat data dari Indonesia Borneo, para peneliti menemukan korelasi antara kepadatan orang utan dan jarak dari pedesaan: semakin terpencil suatu daerah hutan, memiliki lebih banyak orang utan.
Para penulis menuliskan bahwa penyakit yang dikenalkan bisa juga menjadi faktor dalam penurunan populasi orang utan yang nyata ini, namun dicatat bahwa tidak ada bukti hingga saat ini atas wabah pada orang utan.
Bahaya bergesernya garis dasar
Penemuan bahwa kepadatan orang utan dulunya amat tinggi membawa para penulis untuk memperingatkan bahwa tingkat pemahaman saat ini atas kera merah ini dapat terbiaskan oleh skenario "pergeseran garis dasar": situasi di mana kondisi yang menurun saat ini diasumsikan sebagai representasi dari kondisi di masa lalu.
"Pengetahuan dari penelitian kami membuat kami sadar seberapa banyak garis dasar populasi telah bergeser," Mijaar mengatakan pada mongabay.com via email. "Mungkin ada setengah juta orang utan 150 tahun yang lalu, dan sebelumnya mungkin lebih."
"Para peneliti telah mempelajari mengenai orang utan dengan meneliti mereka dengan kondisi dan kepadatan saat ini, namun ini mungkin lebih seperti meneliti bosmen di Kalahari untuk mengerti perilaku orang-orang New York."
Dengan kata lain, semua yang kita pikir kita tahu tentang orang utan mungkin berdasar pada pengetahuan yang tidak lengkap.
"Jika ide kita ternyata benar, mungkin ini akan mengubah secara keseluruhan pemahaman kita tentang pengembangbiakan, interaksi antar seks, kebiasaan makan, dan cara berkeliarannya," ujarnya, menambahkan bahwa para ahli konservasi perlu untuk mempertimbangkan masalah ini dalam strategi mereka untuk melindungi orang utan, yang saat ini berkisar 50.000 populasi di Sumatera dan Borneo.
"Konservasi tidak akan mengembalikan kita pada setengah juta orang utan seperti di jaman Wallace [Alfred Wallace, ahli biologi abad ke-19], namun apa seharusnya target kita?"
Meijaard mengatakan bahwa peneliti juga menggarisbawahi pentingnya untuk mengatasi dengan lebih efektif perburuan ini sebagai ancaman utama terhadap orang utan.
"Penelitian ini dan satu lagi yang masih perlu kami publikasikan lebih banyak mengindikasikan bahwa perburuan oleh penduduk setempat telah dan masih menjadi ancaman besar bagi orang utan di Kalimantan. Namun, tak ada satu program pun untuk mengatasi masalah tersebut. Kenapa? Apakah terlalu sensitif untuk menyalahkan Dayak yang kasihan itu? Atau terlalu sulit? Yang manapun alasannya, jelas bahwa kecuali jika kita dapat mengatasi perburuan, hampir semua orang utan Kalimantan yang berada di luar daerah yang dilindungi akan menemui ajalnya."
Erik Meijaard, seorang ekologis dengan Nature Consulting International, dan rekan-rekannya membandingkan tingkat perjumpaan dengan tingkat-tingkat sebelumnya dari naturalis yang bekerja di pertengahan abad ke-19. Mereka menemukan bahwa orang utan jauh lebih jarang saat ini, bahkan di daerah hutan asli.
"Padahal beberapa penjelajah awal dulu akan melihat sebanyak enam orang utan di satu pohon atau bertemu dengan tiga lusin di sepanjang sungai dalam satu hari, sekarang, di hutan yang sama, jarang ditemui seekor orang utan di alam liar," ujar Meijaard pada mongabay.com via email.
Orang utan Sumatera. |
"Wawancara atas hampir 7000 penduduk di Kalimantan [wilayah Indonesia di Borneo] baru-baru ini mengungkap bahwa lebih dari ribuan orang utan masih dibunuh setiap tahunnya oleh penduduk setempat, yang lebih dari 50% adalah untuk makanan," katanya.
Meijaard dan rekan penulisnya menggarisbawahi beberapa faktor yang mungkin telah mengakibatkan peningkatan perburuan di Borneo, termasuk salah satu yang khususnya aneh di bagian utara Borneo: pelarangan perburuan kepala oleh pemimpin kolonial di Malaysia.
"Masih tidak jelas kenapa tekanan perburuan meningkat di Sabah bagian barat beberapa ratus tahun yang lalu. Waktunya sesuai dengan perkiraan berakhirnya perburuan-kepala di Borneo, yang membuat sebagian besar bagian pulau tersebut terlalu berbahaya untuk dikunjungi," tulis penulisnya. "Banks menyimpulkan bahwa perburuan-kepala menyediakan perlindungan bagi kehidupan liar, karena sebagian besar wilayah hutan dihindari oleh pemburu yang takut bertemu dengan kelompok pemburu kepala yang sedang menjelajah. Dia mencatat bahwa, segera setelah pelarangan kolonial atas perburuan-kepala diterapkan, banyak wilayah hutan menjadi lebih aman untuk dilewati, memungkinkan para pemburu untuk masuk lebih jauh dari desanya... Juga, diperkirakan kepala orang utan menggantikan kepala manusia sebagai trofi, yang mungkin juga menambahkan tekanan perburuan atas orang utan."
Orang utan Borneo |
Para penulis menuliskan bahwa penyakit yang dikenalkan bisa juga menjadi faktor dalam penurunan populasi orang utan yang nyata ini, namun dicatat bahwa tidak ada bukti hingga saat ini atas wabah pada orang utan.
Bahaya bergesernya garis dasar
Penemuan bahwa kepadatan orang utan dulunya amat tinggi membawa para penulis untuk memperingatkan bahwa tingkat pemahaman saat ini atas kera merah ini dapat terbiaskan oleh skenario "pergeseran garis dasar": situasi di mana kondisi yang menurun saat ini diasumsikan sebagai representasi dari kondisi di masa lalu.
"Pengetahuan dari penelitian kami membuat kami sadar seberapa banyak garis dasar populasi telah bergeser," Mijaar mengatakan pada mongabay.com via email. "Mungkin ada setengah juta orang utan 150 tahun yang lalu, dan sebelumnya mungkin lebih."
"Para peneliti telah mempelajari mengenai orang utan dengan meneliti mereka dengan kondisi dan kepadatan saat ini, namun ini mungkin lebih seperti meneliti bosmen di Kalahari untuk mengerti perilaku orang-orang New York."
Dengan kata lain, semua yang kita pikir kita tahu tentang orang utan mungkin berdasar pada pengetahuan yang tidak lengkap.
"Jika ide kita ternyata benar, mungkin ini akan mengubah secara keseluruhan pemahaman kita tentang pengembangbiakan, interaksi antar seks, kebiasaan makan, dan cara berkeliarannya," ujarnya, menambahkan bahwa para ahli konservasi perlu untuk mempertimbangkan masalah ini dalam strategi mereka untuk melindungi orang utan, yang saat ini berkisar 50.000 populasi di Sumatera dan Borneo.
Kalimantan, 2006 Kalimantan, 2009 |
Meijaard mengatakan bahwa peneliti juga menggarisbawahi pentingnya untuk mengatasi dengan lebih efektif perburuan ini sebagai ancaman utama terhadap orang utan.
"Penelitian ini dan satu lagi yang masih perlu kami publikasikan lebih banyak mengindikasikan bahwa perburuan oleh penduduk setempat telah dan masih menjadi ancaman besar bagi orang utan di Kalimantan. Namun, tak ada satu program pun untuk mengatasi masalah tersebut. Kenapa? Apakah terlalu sensitif untuk menyalahkan Dayak yang kasihan itu? Atau terlalu sulit? Yang manapun alasannya, jelas bahwa kecuali jika kita dapat mengatasi perburuan, hampir semua orang utan Kalimantan yang berada di luar daerah yang dilindungi akan menemui ajalnya."
Tari Kecak
Tari kecak atau Seni tari Kecak merupakan sebuah seni tari yang berasal dari Bali Indonesia, Seni Tari Kecak ini dipertunjukkan oleh banyak [puluhan atau lebih] para penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu dan sambil menyerukan “cak” serta mengangkat kedua lengan. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
Tari Kecak menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Berdasarkan referensi dari wikipedia, meskipun Tari kecak ini seni tari Khas Bali, tapi tari kecak ini diciptakan bersama dengan seniman luar negeri, iya adalah Walter Spies yaitu pelukis dari Jerman. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Langganan:
Postingan (Atom)
